Posts

Showing posts from April, 2019

TERAKHIR KALINYA

Image
Aku masih menulis dengan harapan segala tentangmu dibaca, ditejemahkan dengan jari jemarimu untuk setidaknya bertanya melalui apapun yang mungkin bisa disampaikan. Aku tidak tahu kalau ini kali yang keberapa aku mengatakan kita sudah berakhir, kita sudah tidak punya apa-apa lagi dengan niatnya, kita sama-sama tidak punya rasa lagi. Tapi aku masih keliru. Keliru kalau egoku ini masih menjadi sandaran kepada kamu. Anak yang tidak tahu diuntung! Aku mengerti kalau tahap ketidaksudianmu untuk membaca segala puisi tentangmu kerana aku sedar tak semua manusia perlu rasa sudi untuk melakukan semua hal. Dan aku juga mengerti seandainya kali ini adalah yang terakhir untuk kamu membaca segala puisi rasa hati aku. Andai saja kita bisa melangkah ke waktu itu lagi, sudah tentu semua puisi ku hanya untuk kehidupan yang ada turun naiknya. Bukan semata demi kamu yang kini semakin membuat aku buta, rasa keluh, rasa ingin dipijak-pijak, hentak, marah dan semua rasa benci. Terakhir kali ini ...

SISA

Setelah berbagi semua rasa dan perasaan, aku akhirnya berjaya untuk melupakan dengan mata bukan dengan hati. Dasar, si pembuta. Aku tahu kalau melupakan ini cara yang paling terbaik tapi tak sedar bahawa melupakan juga menyakitkan. Bagaimana nanti kalau aku tidak lagi menyapa rasa rindu? Aku tak mahu kalau kamu terus hilang tapi aku juga takmahu terus menerus merasakan diri ini selalunya tak menentu. Rumit sekali. Kamu sendiri tinggalkan sisa-sisa itu yang kini menjadi sia-sia untuk aku simpan. Eh, kembalikan ke tempatnya. Aku takmahu simpan. Tapi aku takmahu tak punya apa-apa bersama kamu. Aku bertanya dengan rasa yang begitu leka, "benarkah dengan sisa ini aku bisa melupakan?" dan akhirnya persoalan itu terjawab dengan kedinginan mu sendiri. Sedih melihat dinginmu untuk menyapa, "apa khabar?" atau mungkin saja, "sedang apa?". Tapi sayang, hanya kedengaran pada kenangan lalu. Aku takmahu punya sisa denganmu tapi aku jujur, rindu. Untuk kesekian kali...

HEAL

Proses menyembuhkan begitu sulit. Bukan kerana kita tak mampu untuk menyembuhkan diri sendiri tapi kadang kala membiarkan kesakitan itu terus menerus ada sebagai tanda, "oh, aku sudah puas" atau, "aku lali dengan semua ini". Sembuh tidak semestinya melupakan kerana masih ada luka yang menjadi cebisan kecil. Tidak untuk diingati tapi tetap untuk dirasai. Pernah sejenak berfikir, "aku masih terluka" itu sebenarnya bermaksud aku tak sepenuhnya sembuh dengan semua ini. Hal yang kecil juga membuatkan kita semakin sensitif. Semakin menyakitkan. Entah kalau aku sahaja yang merasakan ini - itu yang sering diucapkan di dalam hati. Sepertinya tak ada seorang pun yang faham! Aku pernah menitipkan doa di dalam hati agar perlahan-lahan sembuh dari luka ini. Luka yang tidak sebesar mana tapi sungguh menyakitkan untuk menidakkan dan untuk tetap pandang kedepan, "aku sembuh". Penat. Emosi yang mungkin tak pernah sesama manusia tahu adalah kesedihan. Mungki...