Posts

Showing posts from April, 2020

terkongkong

Kamu mengetuk pintu seakan tahu bahawa nantinya aku melayan kamu sebagai tamu istimewa. Rasanya belum cukup lagi dengan kata salam, kamu sudah menghulurkan tangan tanda benar-benar ingin masuk. Aku menjemput dengan rasa semoga ini yang lebih baik. Kamu bahkan sering bertanya soal isi kepalaku saja dan juga cerita kita sejauh ingin pergi dari masa lalu, ingin beranjak dengan lebih tenang tapi sayang, kamu pergi lagi. Mungkin aku salah. Membenarkan kamu masuk tanpa bertanya tujuan dan aku salah percaya pada sikap baikmu. Kamu seolah tidak berasa bersalah dengan perasaan yang telah kamu berikan kepadaku.

rintik membahasi perasaan

Melihatmu tersenyum pada satu hari yang indah membuatku masih percaya bahawa masih kamu lagi yang menjadi sebab aku berasa lega sendiri. Melihatmu menjadi yang terbaik juga membuatku percaya bahawa setidaknya kepergianku tidak menghalang dirimu menempuh badai dan segala hempasnya rintik hujan. Tidak lagi aku mencarimu setelah pencarian ini aku akhiri dengan doa agar kamu akan selalu baik-baik saja tanpa khabar. Apa kamu sudah berasa hangat pada pelukan yang lain? Kalau mungkin iya, semoga pelukan itu kekal agar kamu tetap tersenyum. Aku masih di sini, menulis segala hal yang tidak kutemukan pada orang lain. Segala isi hati yang sering kali aku menolak kerana semuanya tentangmu. Kepergianmu begitu mengajarkan ku untuk memegang pena yang salah, memegang kata yang tidak mungkin akan kembali lagi secara batinnya. Mungkin kali ini aku sudah siap sedia untuk pergi agar tidak lagi segala ritma rasaku untukmu saja. Sudah usai dan sebaiknya kakiku juga mulai berjalan, tanganku mulai melep...

rumah yang nyaman

Segala sesuatu yang pernah aku tujukan kepadamu hanyalah sebagai tanda terima kasih kerana sudah pernah menjadi sebahagian daripada hati yang kemudiannya pergi tanpa kata yang jelas. Manusia memang cepat berubah. Berawal dari pertemuan sehinggalah soal hati. Katanya, kamulah rumah yang nyaman tapi pergi juga ke rumah yang lain. Sementara aku menunggu di sisi jendela dan kamu di jendela yang lainnya. Kita pernah serumah. Hanya kamulah yang aku cari tapi pergi tanpa pulang. Apa sebenarnya kamu itu tidak tahu untuk pulang atau sebenarnya sengaja tersesat?. Untuk perempuan, Jangan pernah terbiasa dengan menunggu mereka yang sebenarnya hanyalah menyinggah di rumahmu, bukanlah ingin menjadi penetap. Kamu seolah menjadi tempat berteduh setelah rumah lainnya kosong dan pergi. Jangan menjadi lebih dungu, kamu boleh menutup pintu dengan baik atau lebih tegas. Rumahmu tempat merehatkan hati.