terkongkong

Kamu mengetuk pintu seakan tahu bahawa nantinya aku melayan kamu sebagai tamu istimewa. Rasanya belum cukup lagi dengan kata salam, kamu sudah menghulurkan tangan tanda benar-benar ingin masuk.

Aku menjemput dengan rasa semoga ini yang lebih baik. Kamu bahkan sering bertanya soal isi kepalaku saja dan juga cerita kita sejauh ingin pergi dari masa lalu, ingin beranjak dengan lebih tenang tapi sayang, kamu pergi lagi.

Mungkin aku salah. Membenarkan kamu masuk tanpa bertanya tujuan dan aku salah percaya pada sikap baikmu. Kamu seolah tidak berasa bersalah dengan perasaan yang telah kamu berikan kepadaku.


Comments

Popular posts from this blog

aku sudah bergelar alumni!

Terima kasih.

aku membaca puisi lamamu