Menulis di antara suka dan duka
Sekian lama rasanya, menulis hanya tinggal satu alasan ketika sedang berduka. Tidak tahu duka apa yang dibawa tetapi sekian lama menghilang, ternyata menulis hanya untuk menyampaikan rasa duka. Sedangkan bila pun menulis itu, semua rasa harus ada. Emosi yang bergelora, menemani jari-jari menekan satu peratu abjad sambil menghirup air teh yang dibikin konon katanya untuk lebih "estetik". Sekian lama rasanya, ada kala rindu tulisan-tulisan lama. Ada tulisan yang masih menjadi satu kebanggaan "kenapa agaknya saya boleh menulis seperti ini?" dan ada tulisan yang menjadi kelucuan, senyuman sinis menyindir akan keberanian untuk dipertontonkan kepada umum "kenapa agaknya saya menulis selucu ini?". Dari situ kita faham, diri kita ini mempunyai banyak minat. Sama ada minat yang ditunjuk atau minat yang hanya kita sendiri tahu. Mungkin juga, dalam banyak-banyak minat itu, ada satu yang paling berharga. Contohnya, menulis. Tapi sungguh, begitu sayangnya, menulis han...